Tahun 2021, ketika pandemi Covid-19 masih menekan ekonomi dan banyak orang kehilangan pekerjaan, Khairun Rizki bersama tim Sanbercode mengadakan pelatihan digital skill gratis untuk pemuda desa di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Harapannya sederhana: membuka pintu agar mereka bisa melihat peluang baru di era digital.

Workshop itu dirancang sebagai perkenalan yang ringan. Khairun membuka sesi dengan presentasi yang sengaja dibuat menggugah: ada nama-nama CEO besar, kisah orang sederhana dari desa yang berhasil sampai ke mancanegara, dan gambaran tentang skill digital sebagai bekal masa depan. Peserta tidak dituntut langsung mahir. Yang penting, mereka tertarik dulu dan mulai melihat kemungkinan yang sebelumnya terasa jauh.

Namun, bagian yang paling membekas justru terjadi setelah materi selesai. Sekitar 40 peserta diwawancarai satu per satu mengenai mimpi besar mereka. Sebagian besar menjawab ingin bekerja di toko atau pabrik dalam waktu dekat. Sebagian lainnya tidak bisa menjawab, mungkin karena malu atau takut. Hanya satu orang yang cukup berani mengatakan ingin bekerja di perusahaan besar di Jakarta.

Ketika lingkungan membuat mimpi terasa terlalu tinggi

Pemandangan itu jarang ditemui Khairun di perkotaan. Anak-anak muda di kota biasanya lebih berani menyebut keinginan menjadi founder startup, kuliah ke luar negeri, atau menghasilkan karya yang mendunia. Perbedaan ini tidak otomatis berarti pemuda desa kurang mampu atau kurang rajin. Bisa jadi, realitas yang keras membuat mereka lebih berhati-hati. Bisa juga, lingkungan sekitar pernah menertawakan mimpi yang dianggap terlalu tinggi, sehingga diam terasa lebih aman.

Dari pengalaman tersebut, muncul pelajaran penting: memiliki visi besar adalah sebuah privilese. Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya merasa boleh bermimpi jauh. Karena itu, ketika seseorang sudah punya visi, ia sedang memegang sesuatu yang bernilai. Visi memberi gambaran tentang arah yang ingin dituju, bukan sekadar daftar pekerjaan yang perlu diselesaikan hari ini.

Dalam perjalanan membangun bisnis atau mengembangkan diri, tantangan akan menguji optimisme, keyakinan, dan cara berpikir rasional. Target bisa meleset, proses belajar terasa lambat, dan hasil belum tentu segera terlihat. Tanpa alasan yang kuat, semangat mudah habis ketika kenyataan tidak sesuai rencana. Visi besar berfungsi seperti bahan bakar: bukan membuat kita tidak pernah lelah, melainkan memberi alasan untuk bangkit setelah lelah.

Gali alasan sampai ke akarnya

Simon Sinek, melalui gagasan dalam Start with Why, menjelaskan bahwa kekuatan seseorang tidak hanya terletak pada apa yang dilakukan, tetapi juga pada alasan mengapa ia melakukannya. Salah satu cara sederhana untuk menggali alasan itu adalah metode 5 Whys. Kita bertanya “kenapa” berulang kali sampai jawaban yang muncul tidak lagi berhenti pada keinginan permukaan.

Misalnya, seseorang ingin berbisnis. Ketika ditanya kenapa, ia menjawab karena ingin punya penghasilan yang lebih baik. Kenapa penghasilan lebih baik? Karena ingin mandiri secara finansial dan tidak bergantung pada orang lain. Kenapa ingin mandiri? Karena kemandirian itu memungkinkan dirinya menciptakan produk-produk inovasi.

Pertanyaan berikutnya: kenapa ingin menciptakan produk inovasi? Jawabannya, karena ia ingin anak muda Indonesia menggunakan teknologi yang relevan dengan kebutuhan mereka tanpa selalu bergantung pada produk luar negeri. Lalu, kenapa hal itu penting? Karena ia ingin membangun perusahaan teknologi dari Indonesia yang mampu bersaing setara dengan perusahaan kelas dunia seperti Microsoft atau Google, menghasilkan inovasi global, dan memberi dampak yang luas.

Jawaban terakhir biasanya lebih dekat dengan akar motivasi. Keinginan memperoleh penghasilan adalah alasan yang sah, tetapi penggalian lebih dalam menunjukkan nilai yang ingin diwujudkan. Dari sana, visi menjadi lebih jelas. Ia tidak lagi hanya mengejar angka pendapatan, melainkan memahami perubahan seperti apa yang ingin ia bantu ciptakan.

Visi perlu dilatih, bukan ditunggu

Menemukan visi besar bukan berarti semua langkah setelahnya otomatis mudah. Bisnis tetap membutuhkan perhitungan, kerja yang tekun, pembelajaran, dan kesiapan menghadapi risiko. Visi juga tidak boleh dipakai untuk menutup mata terhadap kenyataan. Justru visi yang sehat membantu kita menilai kenyataan dengan lebih tahan lama: mana masalah yang perlu diperbaiki, mana kesulitan yang memang bagian dari perjalanan, dan mana arah yang perlu ditinjau ulang.

Mental model seperti ini tidak selalu muncul dengan sendirinya. Ia perlu dilatih melalui pengalaman, percakapan, dan keberanian mengajukan pertanyaan yang lebih dalam kepada diri sendiri. Kalau jawabanmu berhenti pada “ingin sukses”, coba tanyakan lagi: sukses untuk apa, berdampak kepada siapa, dan perubahan apa yang ingin kamu lihat?

Peserta workshop di desa itu mungkin belum langsung memiliki jawaban besar setelah satu acara. Tetapi pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keberanian bermimpi perlu dibuka terlebih dahulu, sebelum seseorang bisa membangun rencana untuk mencapainya. Energi yang terasa tak terbatas bukan tenaga tanpa batas. Ia adalah alasan kuat yang membuat kita bersedia mulai lagi ketika perjalanan terasa berat.