Air sungai yang keruh, berbau, dan dipenuhi sampah memang mudah mengundang dugaan tentang limbah dari rumah-rumah di tepinya. Dugaan itu mungkin benar, tetapi apakah keyakinannya cukup kuat untuk menjadi dasar keputusan penting? Di sinilah proses belajar mengambil peran: bukan sekadar menghasilkan kesimpulan, melainkan membantu kita memahami seberapa kokoh alasan di balik kesimpulan tersebut.
Kesimpulan yang sama, keyakinan yang berbeda
Dalam buku, Khairun Rizki mengingat sebuah kalimat dari dosennya di ITB, Prof. Roos Akbar: ada atau tidak ada data, kita tetap bisa mengambil kesimpulan. Bahkan kesimpulannya bisa sama antara orang yang memakai data dan orang yang tidak. Perbedaannya ada pada keyakinan.
Kalimat itu semakin melekat karena Khairun sempat mengulang kelas sang dosen setelah mendapat nilai D pada pertemuan pertama. Awalnya, ia mengaku belum benar-benar memahami maksudnya. Pemahaman tersebut baru terasa ketika ia membantu sebuah proyek di kementerian yang berkaitan dengan sistem knowledge management.
Saat itu, banyak perencanaan jangka panjang dibuat tanpa dukungan data yang memadai. Akibatnya, arahan kebijakan bisa meleset dan tidak tepat sasaran. Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa data bukan sekadar kumpulan angka atau dokumen pelengkap. Data memberi dasar untuk menilai apakah sebuah kesimpulan memang punya pijakan.
Kembali ke sungai tadi. Misalnya, seorang mahasiswa meneliti kondisinya selama enam bulan. Ia mengumpulkan data, mewawancarai warga, dan melakukan survei langsung. Setelah melalui proses itu, ia menyimpulkan bahwa penyebab utama pencemaran adalah rumah-rumah liar di tepi sungai yang membuang limbah langsung ke aliran air.
Di waktu yang sama, temannya yang hanya lewat bisa saja berkata, “Kayaknya gara-gara rumah liar, ya?” Kesimpulan mereka sama. Namun ketika ditanya siapa yang lebih layak dipercaya, jawabannya jelas: mahasiswa yang melakukan penelitian. Bukan karena dugaannya pasti selalu benar, melainkan karena ia punya proses yang membuat kesimpulannya lebih kuat.
Belajar mengurangi jarak antara tebakan dan tindakan
Di sinilah belajar mengambil peran. Kita sering harus mengambil keputusan ketika hasil akhirnya belum terlihat. Pemilik usaha perlu menentukan produk mana yang dikembangkan, cara melayani pelanggan, atau arah pemasaran. Tidak ada teori yang bisa memprediksi seluruh keadaan lapangan secara sempurna. Selalu ada perubahan perilaku pelanggan, persaingan, waktu, biaya, dan faktor lain yang sulit dikendalikan.
Namun, orang yang membekali diri dengan pengetahuan, data, dan pengalaman teruji punya pijakan yang lebih baik daripada orang yang hanya mengandalkan feeling. Pengetahuan tidak menghapus ketidakpastian. Ia membantu kita memahami apa yang sedang dihadapi, pilihan apa yang tersedia, serta konsekuensi yang mungkin muncul dari setiap pilihan.
Misalnya, pemilik usaha makanan menduga pelanggan berhenti membeli karena harga naik. Ia bisa langsung menurunkan harga. Tetapi setelah melihat catatan transaksi dan membaca kembali masukan pelanggan, ia mungkin menemukan persoalan lain: waktu pengiriman sering berubah atau pilihan pemesanan terlalu rumit. Kesimpulan awal dan kesimpulan setelah memeriksa informasi bisa berbeda. Kalaupun ternyata sama, keputusan yang diambil setelah memeriksa data tetap lebih meyakinkan.
Dalam bisnis, bekal untuk mengambil keputusan bisa datang dari data, teori, insight, maupun pengalaman yang sudah diuji oleh para praktisi. Bentuknya berbeda, tetapi semuanya dapat membantu kita melihat pola dan memeriksa dugaan. Pengetahuan tidak menjamin hasil tertentu; manfaatnya terasa ketika kita bisa menjelaskan alasan di balik pilihan dan mengenali bagian yang masih belum pasti.
Keyakinan memberi energi untuk terus maju
Keyakinan yang dimaksud bukan rasa percaya diri kosong. Ia tumbuh karena kita punya alasan untuk mempercayai langkah yang dipilih. Mahasiswa dalam contoh tadi lebih yakin karena ia mengamati sungai, mengumpulkan bukti, berbicara dengan warga, dan memeriksa kondisi selama beberapa bulan. Proses itu membuatnya mampu menjelaskan bukan hanya apa kesimpulannya, tetapi juga mengapa ia sampai pada kesimpulan tersebut.
Hal yang sama berlaku ketika kita belajar menjalankan bisnis. Hasil yang diharapkan mungkin belum muncul. Strategi yang dipilih bisa saja perlu diperbaiki. Tetapi pengetahuan membuat kita tidak sepenuhnya berjalan dalam gelap. Ketika hasil belum sesuai, kita punya dasar untuk bertanya: informasi mana yang kurang, asumsi mana yang keliru, dan bagian mana yang perlu diuji lagi.
Karena itu, belajar sejatinya bukan hanya proses mengumpulkan materi atau memperbanyak teori. Belajar adalah proses menambah keyakinan agar kita mampu mengambil keputusan dengan lebih sadar. Data, pengalaman, dan pengetahuan tidak menjanjikan bahwa semua langkah akan berhasil. Namun ketiganya membuat kita lebih siap menanggung pilihan, membaca hasilnya, lalu tetap bergerak ketika perjalanan belum selesai.

