Ada masa ketika hari-hari Khairun Rizki dipenuhi banyak hal yang sama-sama menarik. Setelah lulus dari jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota ITB pada 2014, ia tetap membantu proyek dosen di bidang planologi, mengemban amanah sebagai manajer bidang kaderisasi di Masjid Salman ITB, dan terus mengembangkan hobi coding. Dari pagi sampai tengah malam, hampir selalu ada kegiatan yang bisa dikerjakan.

Sekilas, keadaan itu tampak seperti gambaran orang yang sangat produktif. Tidak ada waktu terbuang. Satu pekerjaan selesai, pekerjaan lain menunggu. Waktu istirahat pun kadang dipakai untuk bereksperimen dengan coding. Namun kesibukan yang terus bertumpuk perlahan membawa akibat: performa kerja menurun, kesehatan drop, dan hasil di setiap bidang terasa setengah matang. Banyak energi keluar, tetapi tidak ada satu hal yang tumbuh dengan benar-benar kuat.

Sibuk tidak selalu berarti bergerak

Di sinilah nasihat yang sering dikaitkan dengan Albert Einstein terasa relevan: mengulangi hal yang sama sambil mengharapkan hasil berbeda adalah kegilaan. Kita mungkin tidak kekurangan usaha. Yang kurang justru fokus. Kalau perhatian terus dipindahkan dari satu hal ke hal lain, kita bisa mengira sedang maju, padahal hanya berputar di antara banyak kesibukan.

Multitasking memang bisa membantu pekerjaan remeh yang tidak membutuhkan pemikiran mendalam. Membalas pesan sambil menunggu file terkirim, misalnya, mungkin tidak menimbulkan masalah besar. Tetapi karya yang penting membutuhkan perhatian utuh. Membangun produk, memimpin tim, mengembangkan keahlian, atau menyelesaikan persoalan rumit menuntut waktu untuk berpikir, mencoba, menemukan kesalahan, lalu memperbaikinya. Proses seperti itu sulit terjadi kalau pikiran selalu dipanggil ke arah lain.

Dalam kisah Khairun, masalahnya bukan karena planologi, organisasi, atau coding adalah pilihan yang buruk. Ketiganya punya nilai dan menarik untuk dijalani. Persoalannya, ia mencoba menumbuhkan semuanya pada waktu yang sama, dengan energi yang terbatas. Pilihan yang masuk akal secara terpisah bisa berubah menjadi beban ketika digabung tanpa prioritas yang jelas.

Berani memilih berarti berani kehilangan

Pada pertengahan 2017, Khairun berhenti sejenak untuk melakukan refleksi. Ia menyadari tidak bisa terus hidup dengan pola tersebut. Ia perlu memilih, lalu meninggalkan hal-hal yang berada di luar fokus utama untuk sepenuhnya masuk ke dunia IT. Keputusan itu tidak ringan. Ada rasa kehilangan, ketakutan, dan sedikit penyesalan karena harus melepaskan kegiatan yang sebelumnya juga ia anggap penting.

Namun setelah keputusan itu dibuat, muncul kelegaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia tahu ke mana seluruh energi dan pikirannya perlu diarahkan. Sejak 2018, ia melihat perubahan dalam perkembangan perusahaan, kekompakan tim, dan kedalaman hasil kerja. Sumbernya tidak menggambarkan perubahan itu sebagai hasil dari satu trik cepat, melainkan sebagai konsekuensi dari perhatian yang tidak lagi tercerai-berai.

Kita sering menganggap semua kesempatan harus diambil agar tidak tertinggal. Padahal, setiap kata “ya” juga memakai waktu, tenaga, dan ruang berpikir. Ketika terlalu banyak hal dikejar, kita bukan hanya kehilangan jadwal kosong, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan sesuatu sampai matang. Fokus membutuhkan keberanian mengatakan tidak, supaya ada ruang untuk mengatakan ya pada hal yang sungguh penting.

Lingkungan ikut menentukan arah

Fokus juga tidak dibentuk sendirian. Lingkungan yang salah bisa mengikis arah secara perlahan. Obrolan yang terus-menerus negatif, pergaulan yang menguras energi, atau orang-orang yang menertawakan ambisi dapat membuat kita meragukan pilihan sendiri. Bukan berarti kita harus memutus hubungan dengan semua orang yang berbeda pandangan, tetapi kita perlu menyadari pengaruh suasana sekitar terhadap ketekunan.

Karena itu, dekatlah dengan orang-orang yang punya semangat tumbuh. Mereka tidak harus selalu setuju atau memberi pujian. Yang penting, ketika kita goyah, mereka membantu mengingatkan arah yang sudah dipilih. Dukungan seperti ini membuat keputusan untuk fokus tidak terasa sebagai perjuangan sendirian, terutama ketika hasil belum terlihat dan godaan untuk kembali mengambil semuanya datang lagi.

Fokus bukan berarti menutup diri dari setiap peluang baru. Fokus berarti punya ukuran tentang apa yang layak diperjuangkan sampai tuntas. Kalau ada kesempatan datang, kita bisa menilainya dengan pertanyaan sederhana: apakah ini mendukung arah utama, atau hanya menambah kesibukan? Pertanyaan itu tidak menjamin semua keputusan menjadi mudah, tetapi membantu kita membedakan peluang yang penting dari gangguan yang kebetulan tampak menarik.

Pengalaman Khairun menunjukkan bahwa perubahan besar kadang dimulai dari keputusan yang terlihat seperti pengurangan: mengurangi kegiatan, menolak sebagian peran, dan berhenti membagi perhatian ke terlalu banyak tempat. Yang berkurang memang jumlah hal yang dikerjakan. Namun sebagai gantinya, satu arah mendapat cukup waktu untuk berkembang, diuji, dan menghasilkan sesuatu yang lebih dalam. Di tengah dunia yang penuh distraksi, kemampuan memilih satu hal lalu menekuninya sampai tuntas adalah keunggulan yang semakin langka.