Di kelas 2 SMA, masuk ke universitas populer di Sumatera Utara saja sudah terasa membanggakan. Namun Khairun Rizki dan seorang sahabat dekat justru berani membayangkan sesuatu yang lebih sulit: kuliah di Institut Teknologi Bandung atau ITB. Cita-cita itu terdengar jauh, tetapi justru dari keberanian membayangkan itulah langkah Khairun dimulai.

Membayangkan diri sebelum sampai

Suatu hari, sahabat Khairun bertanya apakah ia ingin masuk ITB. Khairun menjawab mantap bahwa ia mau. Sahabatnya lalu berkata, “Kalau begitu selamat, kamu lulus ke ITB.” Tentu saja Khairun heran. Ucapan itu terdengar janggal bagi seseorang yang masih sedang mengejar cita-citanya.

Maksud sahabatnya bukan mengajak Khairun mengabaikan kenyataan. Ia sedang mengajak Khairun membayangkan sosok yang ingin dicapai. Seperti apa anak ITB? Khairun menjawab bahwa anak ITB pasti rajin belajar sampai larut malam dan memiliki kemampuan sains di atas rata-rata. Dari gambaran itu, ia melihat jarak antara dirinya sekarang dan sosok yang ingin ia capai.

Di situlah optimisme mulai punya bentuk. Khairun kemudian berkata kepada dirinya sendiri, “Selamat, kamu anak ITB.” Kalimat itu bukan bukti bahwa ia sudah lulus. Ia adalah afirmasi positif yang mendorongnya menyesuaikan perilaku dengan gambaran tersebut: belajar lebih keras, lebih disiplin, dan berusaha memiliki kebiasaan yang dianggap sesuai dengan calon mahasiswa ITB.

Alhamdulillah, pada 2009 cita-cita itu menjadi kenyataan. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa optimisme bukan sekadar memikirkan hasil baik sambil menunggu keadaan berubah. Optimisme membentuk cara seseorang bergerak. Ketika gambaran masa depan cukup kuat, kita mulai bertanya, “Kalau aku ingin menjadi orang seperti itu, apa yang perlu kulakukan hari ini?”

Dari bayangan menjadi perilaku

Bayangkan seorang pemilik usaha katering rumahan yang ingin dikenal sebagai pebisnis yang dapat diandalkan. Pesanan mulai bertambah, tetapi ia sering membalas pesan pelanggan terlalu lama, mencatat pesanan di kertas yang tercecer, dan baru berbelanja bahan ketika waktu memasak sudah dekat. Ia sebenarnya ingin menjadi pengusaha yang rapi dan profesional, tetapi perilaku hariannya belum mengikuti gambaran itu.

Kalau ia hanya mengulang kalimat, “Bisnisku pasti besar,” kalimat tersebut belum banyak mengubah keadaan. Namun jika ia membayangkan sosok pemilik katering yang bisa dipercaya, gambaran itu akan memunculkan tindakan yang lebih konkret. Ia mungkin mulai memastikan pesan masuk dibalas pada waktu tertentu, mencatat semua pesanan di satu tempat, dan menyiapkan bahan berdasarkan jadwal produksi.

Perubahan itu tidak menjamin usahanya langsung sukses. Pesanan tetap bisa sepi, bahan makanan bisa naik harga, dan kesalahan masih mungkin terjadi. Tetapi optimisme membuatnya tidak berhenti pada masalah. Ia melihat setiap gangguan sebagai bagian dari latihan untuk menjadi sosok yang ingin ia bangun. Ketika ada pesanan tertukar, ia tidak hanya merasa gagal; ia mencari kebiasaan apa yang perlu diperbaiki agar kesalahan serupa lebih kecil kemungkinannya.

Inilah hubungan antara afirmasi dan tindakan. Afirmasi menyalakan semangat, sedangkan tindakan memberi arah pada semangat itu. Tanpa tindakan, bayangan hanya menjadi angan-angan. Sebaliknya, tindakan tanpa harapan mudah terasa berat karena kita tidak lagi melihat alasan mengapa harus bertahan saat hasil belum tampak.

Optimisme tetap perlu berpijak

Pengalaman Khairun juga menunjukkan bahwa optimisme bukan berarti menganggap semua jalan pasti mudah. ITB tetap lebih sulit ditembus dibandingkan pilihan universitas yang saat itu terasa lebih dekat. Ia perlu belajar lebih keras dan membangun disiplin. Ada usaha untuk mengejar gambaran tersebut, bukan sekadar pengulangan kata-kata positif.

Dalam bisnis, sikap yang sama membantu kita menghadapi ketidakpastian dengan lebih siap. Kamu boleh membayangkan usahamu memiliki pelanggan setia, pelayanan yang konsisten, dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan tenang. Namun gambaran itu perlu diterjemahkan menjadi cara berpikir dan sikap ketika keadaan tidak sesuai rencana. Pebisnis yang optimis bukan orang yang tidak melihat risiko, melainkan orang yang tetap mencari langkah yang bisa dilakukan di tengah risiko itu.

Ada pula bagian yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Dalam kisah Khairun menuju ITB, ikhtiar tidak dilepaskan dari doa dan tawakal kepada Allah. Optimisme berjalan bersama usaha, lalu hasil akhirnya diserahkan kepada-Nya. Sikap ini menjaga harapan tetap hidup tanpa membuat kita merasa mampu mengendalikan semua hal.

Coba lihat kembali sosok yang ingin kamu bangun dalam pekerjaan atau bisnis. Bukan hanya jabatan atau angka penjualannya, melainkan cara berpikir, kebiasaan, dan sikapnya ketika menghadapi masalah. Setelah itu, pilih perilaku yang memang bisa mulai kamu latih. Sebab bayangan masa depan baru menjadi tenaga ketika ia ikut hadir dalam keputusan-keputusan kecil hari ini.